Kamis, 24 April 2014
MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
Beragama berarti memiliki keyakinan
religius. Sebuah keyakinan religius mempunyai titik sentral yang
menentukan awal, akhir, dan proses dari sesuatu. Titik sentral itu
adalah Tuhan. Tuhan itulah yang mengatur sistem dan hukum alam semesta.
Dan keyakinan religius pada dasarnya adalah kecenderungan fitrah
manusia, ia bukan hasil dari upaya. Kalau kecenderungan fitrah itu
diikuti, ia akan menghasilkan ketenangan.
Tidak beragama
berarti melawan kecenderungan fitrah itu, menciptakan pertentangan
batin di dalam diri, sebuah pekerjaan yang tidak realistis, membangun
dunia imajiner yang tidak mendapat dukungan dari sistem dan hukum alam
semesta tadi. Hasil akhirnya adalah kegelisahan.
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Dalam Man and Universe, Murtadha
Muthahhari menjelaskan dengan panjang lebar “Mengapa Manusia Harus
Beragama”. Berikut ini, sari dari apa yang beliau sampaikan itu saya
nukilkan di sini, tentunya dengan bahasa saya sendiri.
1. Optimisme
Pertanyaan-pertanyaan yang sering
mengusik manusia adalah: Apakah perbuatan baik itu ada gunanya? Apakah
kebenaran dan kejujuran itu membantu untuk mencapai tujuan? Dan, apakah
akhir dari penunaian tugas mulia hanyalah kesia-siaan?
Sistem alam semesta sudah dirancang oleh Tuhan untuk mendukung orang-orang yang berbuat kebenaran, keadilan, dan integritas. Meskipun, sebelumnya, mereka yang berbuat untuk kebenaran dan keadilan tersebut akan menghadapi ujian. Reaksi dunia tidak sama terhadap orang-orang yang berbuat baik dan terhadap orang-orang yang berbuat buruk.
Orang-orang yang beragama yakin bahwa
perbuatan baik – cepat atau lambat – pasti akan mendapatkan ganjaran
kebaikan pula untuk dirinya. Dan begitu pula perbuatan jahat akan
mendapat ganjaran keburukan. Keyakinan akan hal ini membuat orang yang
beragama selalu berusaha untuk menjadikan dirinya baik dan melakukan
perbuatan yang baik pula. Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak pada
kelemahan dan kemalasan. Karena orang yang beragama yakin bahwa
keterbelakangan dirinya adalah akibat kelemahan dan kemalasannya untuk
berusaha.
Hal itulah yang membuat orang yang
beragama selalu punya pandangan yang optimis terhadap dunia, hatinya
tercerahkan, bahwa segala usaha-usahanya akan mendapatkan hasil yang
sebanding dengan apa yang ia usahakan.
“…baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan…” (QS. Al-Baqarah: 134)
”Dan barang siapa
yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik.” (QS. An-Nahl: 97)
2. Mengurangi Kecemasan
Yang membuat manusia cemas adalah rasa ragu dan tak pasti. Dan kecemasan manusia yang utama adalah:
- Ketakpastian masa depan, dan
- Kecemasan akan kematian.
- Kecemasan akan kematian.
Banyak kepahitan dan penderitaan hidup
dapat diatasi dengan upaya yang sunguh-sungguh. Namun, ada beberapa
(atau mungkin banyak) kejadian dalam hidup yang tidak dapat dicegah
dengan usaha sekeras apapun, ia hanya dapat diatasi dengan bantuan Tuhan
Yang Maha Kuasa.
Orang yang beragama yakin bahwa kewajiban
manusia hanya berupaya untuk kebaikan semaksimal mungkin agar Tuhan
ridha padanya. Ia tidak berkuasa atas hasil dari apa yang telah
dilakukannya, hasil dari upaya itu Tuhan-lah yang menentukan. Dan dia
percaya bahwa Tuhan selalu punya “skenario” yang lebih baik terhadap
dirinya, dan Tuhan tidak akan pernah memberikan hal buruk terhadap
segala hal baik yang telah dia upayakan. Inilah yang dalam bahasa agama
disebut sebagai Tawakkal.
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. Ali Imran : 195)
Dan soal kematian, bagi orang yang beragama kematian bukanlah berarti kehancuran total. “Kematian
berarti meninggalkan “dunia kerja” menuju ke “dunia hasil”, peralihan
dari dunia fana yang kecil ini ke alam abadi yang agung. Karena itu,
orang yang beragama menyikapi rasa takut matinya dengan menyibukkan diri
dengan amal saleh.” kata Muthahhari.
3. Kepuasan Mental
Ada dua jenis kenikmatan yang dirasakan manusia:
- Kenikmatan yang berkaitan dengan panca indera. Kenikmatan semacam ini terjadi karena kontak organ tubuh dengan objek atau materi tertentu. Misalnya, mata memperoleh kenikmatan dengan melihat, telinga melalui mendengar, lidah dengan merasakan, dan seterusnya. Inilah yang dinamakan kenikmatan material.
- Kenikmatan yang berkaitan dengan jiwa dan batiniah manusia. Kenikmatan serupa ini tidak berkaitan dengan organ tubuh, juga tidak dipengaruhi langsung oleh faktor material. Inilah yang disebut kenikmatan spiritual.
“Kenikmatan spiritual lebih kuat dan
lebih abadi ketimbang kenikmatan material. Setiap perbuatan yang
dilakukan karena Allah Swt., merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan
kenikmatan. Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus
beribadah kepada Allah dengan ibadah mereka yang khusyuk adalah
kenikmatan spiritual. Dengan kata lain, inilah yang disebut sebagai
‘Nikmatnya Iman’,” ujar Muthahhari.
4. Memantapkan Hubungan Sosial
Manusia tidak bisa hidup sendiri,
meskipun itu hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya pribadi. Agar
kebutuhannya terpenuhi manusia membutuhkan orang lain, harus ada kerja
sama, harus ada take and give.
Manusia tahu apa yang diinginkannya. Yang
tidak jelas bagi manusia adalah apa tugasnya terhadap dunia. Agama
menjelaskan tentang kewajiban seorang manusia terhadap manusia lainnya.
Agama juga menjelaskan tentang peri kehidupan bermasyarakat yang baik.
“Kehidupan sosial dapat dikatakan
baik kalau semua individunya menghormati hukum dan hak masing-masing,
memperlihatkan rasa bersahabat satu sama lain, dan menganggap suci
keadilan. Dalam masyarakat yang sehat, setiap orang menghendaki untuk
orang lain apa yang dikehendakinya dan tidak menghendaki untuk orang
lain apa yang tidak dikehendakinya. Semua individunya saling percaya,
dan rasa saling percaya ini didorong oleh kualitas spiritual mereka,” demikian Muthahhari.
Senin, 21 April 2014
manusia dan binatang
KESAMAAN DAN PERBEDAAN MANUSIA DAN BINATANG
Manusia
dan binatang merupakan salah satu mahluk hidup yang ada di bumi. Manusia memiliki
kesamaan dengan binatang dan juga memiliki perbedaan. Diantara perbedaan inilah
yang menyebabkan manusia lebih unggul dari pada binatang. Salah satunya adalah
sifat-sifat manusiawi yang dimiliki oleh manusia. Sifat-sifat ini juga yang
menjadi sumber dari apa yang kita kenal sebagai budadya manusia, berkaitan
dengan dua hal yaitu, sikap dan kecenderungan.
Pada umumnya
manusia binatang memiliki kemampuan untuk mengenal ddirinya dan lingkungan
sekitarnya. Dan dengan berebekal pengetahuan yang didapat dari meelihat diri
dan mengeenal ini, binatang berupaya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Seperti
binatang lainnya, manusia juga memiliki banyak keinginan. Dan dengan bekal keinginan pengetahuan dan
pengertiaanya, manusia berupaya mewujudkan keinginannya. Manusia berbeda dengan
mahluk hidup lainnya. Bedanya adalah manusia lebih tahu, lebih mngerti, ddan
lbih tinggi tingkat keinginannya.
Kekhasan
ini yang dimiliki manusia membedakan manusia deengan binatang, dan membuat
manusia lebih unggul dari pada binatang
Langganan:
Postingan (Atom)
